Posted by Administrator On September - 13 - 2013

pohon subur2

Oleh : Ade Gumilar Iskandar

“Pohon yang tumbuh subur menjulang tinggi  tidak pernah sombong dengan ketinggiaannya. Pohon selalu mengingat batang dan akarnya yang ada dibawah.  Daunnya yang berada di puncak ranting tertinggi, yang setiap hari menikmati kesejukan udara langit, merelakan dirinya berguguran memberikan kesempatan kepada batang dan ranting untuk tumbuh berkembang”.

Keberadaan seseorang akan diuji dari seberapa besar mampu memberikan kemanfaatnya bagi sesama dan lingkungannya. Islam melarang kita menjadi orang yang Wujuduhu ka ‘adamihi (keberadaannya sama dengan ketiadaannya). Lebih dilarang lagi jika menjadi orang yang ‘Adamuhu khoirun min wujudihi (ketiadaannya lebih baik ketimbang keberadaannya). Islam mengajarkan kita agar menjadi orang yang Anfa’uhum linnas (paling bermanfaat bagi orang lain). Inilah tipologi orang penuh manfaat dan dinantikan siapa saja. Banyak orang menyebutnya “Orang Penting”.

Orang yang memiliki prinsif Anfa’uhum linnas bisa dikatakan sebagai orang Sukses, karena ia telah memiliki pandangan filosofis tentang kesuksesan yang berlandaskan Iman yang kuat. Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain, dan melihat mereka tersenyum, “Do something for other can smile”. Itulah Prisif hidup sukses orang penuh manfaat.

Bagaimana, kita bisa menjadi manusia penuh manfaat ?

Sebagai langkah awal, marilah kita berguru kepada pohon. Alloh SWT Berfirman : “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat..” (Q.S. Ibrahim : 24-25)

Pohon Kayu umumnya lebih produktif dari pada manusia, sebatang pohon yang usianya belasan tahun kayunya sudah dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Berbeda dengan manusia dalam usia belasan tahun belum berani mengatakan dirinya sebagai orang yang bermanfaat bagi sesama. Hidup masih bergantung dari kehidupan orang lain/orang tua.

Pohon yang subur dengan daun yang lebat, puncaknya menjulang tinggi ke langit,  Indah mengukir cakrawala. Beberapa tangkai dan daunnya berada di puncak ketinggian melebihi puncak atap rumah. Daunnya yang lebat menaungi tumbuhan yang ada di sekitarnya. Orang-orang lalu berdatangan di bawahnya. Ada yang sekadar berteduh, menikmati udara sejuk. Anak-anak pun ikut bermain di bawahnya.

Disaat musim hujan, pohon memberikan keamanan akan datangnya bencana banjir dan longsor. Demikian juga di musim kemarau, pohon memberikan sumber air yang berlimpah, disamping memberikan keteduhan kepada setiap orang yang berteduh di sekitarnya. Sungguh mulia pohon ini dapat memberi kebahagiaan kepada manusia bahkan kehidupan baru kepada manusia.

Akar pohon tertancap kuat ke dalam tanah. Terdapat dua gerakan yang terjadi pada pohon. Yang pertama, gerakan menuju pusat bumi, dan kedua adalah gerakan menuju sinar matahari. Luar biasa, pergerakan pohon selalu begerak menuju puncak tertinggi, namun demikian pohon tidak lupa melakukan pergerakan ke bawah tanah. Pohon sadar bahwa semakin dirinya menjulang tinggi, terpaan angin akan semakin kencang, karena itu perlu memperkuat akarnya. Di sisi lain cengkraman akar pohon ke tanah juga untuk memperkuat ekosistem tanah, menampung titik air agar tidak terjadi banjir.

Salah satu pelajaran dari kehidupan pohon adalah, Selama perjalanan hidupnya pohon selalu memberikan kemanfaatan kepada mahluk lain. Dan Pohon selalu berusaha mencapai ketinggian sebagai simbol dari kesuksesan, tetapi pohon tidak pernah lupa melakukan gerakan ke bawah sebagai tempatnya berpijak.

Andai saja semua manusia seperti pohon, mungkin ekosistem kehidupan juga akan semakin kuat. Manusia-manusia seharusnya seperti pohon. Selalu berusaha mencapai cita-cita, menuju puncak tertinggi kehidupan, tetapi tidak melupakan saudaranya sesama manusia yang ada di bawah, karena yang di bawah itulah yang memberinya kekuatan sebagai tempatnya berpijak.

Pohon yang tumbuh subur menjulang tinggi  tidak pernah sombong dengan ketinggiaannya. Pohon selalu mengingat batang dan akarnya yang ada dibawah, yang menancap di dalam tanah. Karena mereka akan kembali pula ke tanah. Daunnya yang berada di puncak ranting tertinggi, yang setiap hari menikmati kesejukan udara langit pasti akan gugur juga ke tanah dan lapuk menjadi tanah. Daun-daun itu merelakan dirinya berguguran untuk memberikan kesempatan kepada batang dan ranting untuk tumbuh dan berkembang.

Berbeda halnya dengan manusia, kadang-kadang jika berada di puncak tertinggi sudah lupa akan tanah sebagai tempatnya untuk dikembalikan. Jika sudah terbilang sukses, biasanya tidak memedulikan sesamanya manusia yang belum sukses. Ada arogansi yang membalut hatinya untuk berbaur dengan yang rendah. Tetapi, semua hal itu tidak terjadi pada pohon.

Subhanallah.. Maha suci Allah yang telah menciptakan manusia dan alam semesta, serta menganugerahkan Ilmu pengetahuan yang tiada ternilai harganya.

Wallahu ‘alam bishawab.