Posted by admincbi On December - 30 - 2012

Oleh : Rafdi.

Sampai saat ini sudah ada lima jurus yang diperagakanoleh yang punya berkepentingan untuk bakal calon Walikota Sukabumi.

Pertama, bakal calon non partai yang rajin menghadiri undangan ataupun  pertemuan-pertemuan, baik melalui bendera asosiasi/organisasi ataupun situsional. Ada keyakinan bahwa bakal ada partai politik yang akan mencalonkannya sehingga tidak perlu kasak-kusuk dulu melobi partai politik. Strategi ini di dominasi oleh bakal calon yang berasal dari birokrasi, dan yang bersangkutan sudah dikenal masyarakat.

Kedua, bakal calon dari partai politik yang belum tentu di calonkan oleh partainya, berusaha habis-habisan membuat statement yang salah satunya melalui media massa dengan tujuan supaya bakal calon dari tipe pertama diatas mau menjadikannya sebagai bakal calon pendamping, atau paling tidak partainya bersedia mencalonkan dirinya. Sehingga dari awal-awal menyengaja memberikan kesan punya nilai bargaining tinggi.

Ketiga, bakal calon dari salah satu partai politik yang solid dan benar-benar yakin bakal dicalonkan oleh partainya. Bakal calon ini belum begitu memperlihatkan eksestensinya keluar.

Keempat, bakal calon yang sengaja diopinikan padahal bakal calon tersebut belum tentu bersedia dicalonkan. Dan barangkali juga belum tentu dia tahu kalau namanya santer diberitakan media massa. Bakal calon kategori ini berasal dari selebritis.

Kelima, yang tidak tergolong empat jurus tersebut. Namanya masuk disebut-sebut sebagai bakal calon, tetapi asal-muasal prosesnya belum diketahui walaupun sebahagian sudah muncul di media massa.

Bagi yang punya kepentingan terhadap bakal calon Walikota alangkah lebih baiknya memparadigmakan jabatan Walikota mengacu kepada Konsep Dasar Khalifah/Pemimpin sebagaimana diuraikan di bawah ini.

Pertama, secara konseptual-teologis. Firman Allah SWT : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi {Q.S.Al Baqarah (2):30}.

Kedua, manusia sebagai pemimpin, penguasa, atau pemegang mandat.

Ketiga, manusia sebagai manejer di dunia. Manusia dituntut untuk mengelola dunia dengan beragam isinya. Mengarahkan segala potensi yang dimiliki untuk memenej sumberdaya manusia dan sumber daya alam.

Keempat , kepemimpinan dimaknakan sebagai di karenakan  punya kelebihan dalam konteks biologis-ekologis. Di banding mahluk lainnya, manusia punya kelebihan dalam kemampuan mengelola bumi ini. Bila seorang pemimpin dibandingkan dengan yang dipimpin/manusia boleh pula dikatakan bahwa dia punya keunggulan komperatif dan kompetitif dibanding dengan yang dipimpin.

Dari empat macam uraian di atas bisa di jabarkan sebagai berikut: poin pertama adalah Surat Keputusan Pengangkatan manusia menjadi khalifah/pemimpin, poin kedua pemimpin sebagai mandat/amanah, poin ketiga dasar operasional pelaksanaan tugas  atas mandat/amanah yang di dapat, poin keempat penghayatan teknis terhadap objek yang dipimpin yaitu biologis-ekologis dengan penuh keyakinan, ikhtiar, istiqomah, tawakkal dengan dasar prinsip bahwa Allah SWT telah membedakan dia pada kelebihannya terhadap objek yang ia pimpin. Dengan demikian Insya Allah girohnyapun akan muncul, tegar, dan energik.

Walikota Sukabumi ke depan untuk senantiasa berikhtiar mengaplikasikan S.K. yang tertera dalam Al-Qur’an sebagai visi dan Hadist sebagai misi. Bilamana pola-pola ini sudah melekat, maka tugas-tugas teknis dan aplikatif akan mengikuti dengan sendirinya.

Walikota Sukabumi ke depan “yang kuat” lebih dibutuhkan dibanding walikota “yang hebat”. Dia sanggup mengenyampingkan anggapan dasar bahwa kompetiter adalah orang lain. Padahal sesungguhnya kompetiter itu adalah: dia bersaing dengan dirinya sendiri. Mengimprovisasikan diri dengan  menghunus pedang dan menorehkan luka di tubuh sendiri untuk sampai pada pemahaman,  bahwa; beginilah sakitnya luka bila rakyat terlukai. Jabatan Walikota merupakan pertaruhan hidup-mati, bukan pertaruhan menjadikan hidup lebih hidup. Kalaupun selamat sampai akhir masa jabatan dikarenakan Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang berkenan menutupi aib-aibnya.

Kota Sukabumi adalah kota miskin lahan tapi kaya isyu, kentut di Subang Jaya kedengaran ke Lembur Situ. Untuk itu walikota harus siap untuk disoroti mulai dari hal-hal mendasar sampai pada kinerja sebagai Walikota.

Kota Sukabumi, kota yang kecil, rapat, dan akrab sehingga dibutuhkan hawa kebijakan (Decisionmaking)yang merakyat ketimbang Yuridis Formal yaitu mengarah pada nilai strategis pada pertimbangan mudharot-manfaat. Sebagai contoh, lebih bermanfaat mana bila membiarkan pedagang kaki lima yang membela hajat hidup keluarganya dibanding mengusirnya karena alasan sedikit macet.

 Deskripsi percaturan di Kota Sukabumi adalah jajaran–jajaran barisan stake holders merapat dan mencari peluang yang mayoritas mengarah ke satu titik, yaitu birokasi. Berbagai bendera menancap disitu. Ada yang disebut mitra, kawan lama, koneksi, pressure, sampai pada pendekatan ragu-ragu dan malu-malu.

Berbagai bendera dengan gaya masing-masing itu seperti pemborong, pengusaha jasa, wartawan, LSM, sampai makelar. Birokrasi sektor atas yang di kerumuni adalah Walikota, Wakil Walikota, dan Sekda. Sedangkan subsektor yang juga dikerumuni seperti RSUD R.Syamsudin SH, Dinas Pendidikan, Dinas PU, Bag.Kessos, Infokom, dan lain-lain.

LSM di kota ini pun cukup unik, sibuk memikirkan anggaran dasar, sementara anggaran ongkos yang lebih mendasar belum terpecahkan. Lebih banyak judul tetapi sedikit personil. Lebih senang mengontrol ketimbang di kontrol. Punya missi pemberdayaan tetapi terkadang tidak berdaya. Kalah gaya dan upaya oleh yang lebih berdaya seperti birokrasi. LSM di kota ini hidup-mati, hidup-mati. Di katakan mati, kuburannya entah dimana. Di katakana hidup, memang personilnya ada, hanya sekarang beda judul (Bikin LSM Baru). Satu orang bisa tiga LSM, tetapi tiga LSM belum tentu ada satu orang (karena LSMnya vakum dan sudah tidak aktif). Namun demikian peranan LSM cukup besar terutama di jajaran Kontrol sosial.

 Ni, ada lagi, ni. Namanya tim sukses. Ciri-cirinya rajin bertamu ke Balon (Bakal Calon), bahkan sering menjadi tamu pertama,datang pagi-pagi. Senang berdebat dengan tema “peluang”. Yakin diri untuk meyakinkan. Tajam berargumentasi sampai pada diplomasi “NKRI, harga mati”. Tetapi kalau ongkos (biaya), bisa ditawar“bagaimana bapak ajalah”, sambil sedikit menunduk malu tapi penuh harap.”Kalau warga Bojong Su’uk bagaimana saya, Pak. Kalau saya arahkan suaranya ke bapak, mereka akan ikut. Pokoknya bapak percayakan saja ke saya”. Adakalanya bahasa yang sama dibahasakan juga ke Balon lain. Tetapi yang sedikit membingungkan, banyak dari tim sukses sengaja menjadi tim sukses karena tidak sukses di bidang lain. Namun demikian hebat juga, Ya? Orang yang belum sukses bisa menyukseskan orang lain? Ah, aya aya wae !

Sepertinya kafilah-kafilah organisasi banyak menghuni LSM, tim sukses, bahkan asosiasi. Mereka punya andil besar menghirukkan (menghidupkan) perpolitikan di kota ini, walaupun belum sampai pada taraf pikuk. Andil mereka berperan penting menghangatkan gairah partisipasi politik tingkat kota. Menghidupkan “analisa gaya warung kopi”, sehingga memperbanyak opini. Namun saking banyaknya opini, menyebabkan analisa Bakal Calon Walikota menjadi lebih rumit daripada menebak togel. Ah, lier urang, mah!

Dari semua itu Walikota Sukabumi harus siap dengan tameng yang kokoh karena dianggap biang gula yang bakal di datangi semut-semut dari berbagai penjuru, yaitu oleh: Kafilah organisasi, pemain proyek, makelar, tukang pressure, dan lain-lain. Untuk itu dia harus siap memposisikan dirinya sebagai pendekar, petarung yang kemana-mana membawa senjata, yaitu: Prinsip.

Pada saat lain, dia juga bisa memerankan diri sebagai penyejuk, senyum yang terlalu memberi sehingga masyarakat merasa dekat untuk menjemputnya. Senantiasa merasa ada hubungan kausalitas dengan dirinya terhadap berbagai keadaan. Merasa payah melihat orang lain kepayahan. Sehingga terhindar dari sifat tercela, yakni, “Senang melihat orang lain susah, susah melihat orang lain senang”. Duduk bersila ditikar dhuafa, dan bersahaja di lingkungan orang yang berada. Untuk konteks ini peranan Walikota adalah sebagai pengayom.

Peranan lain yang juga tak kalah penting yakni posisi Walikota memerankan diri sebagai dokter, mengobati penyakit masyarakat (phatologisosial) dan berbagai permasalahan masayarakat lainnya. Ada penyakit masyarakat yang sulit diantisipasi dan di obati karena proses dan peristiwanya tiada larangan untuk itu. Berbeda dengan pelacuran yang harus berhadapan dengan norma sosial sampai Yuridis Formal. Dibutuhkan kepiawaian untuk mengobati penyakit aneh tersebut. Namanya demam angan-angan.

Bisnis tokek enam ons yang katanya di ekspor ke Korea, padahal orang Korea sangat jijik terhadap tokek dan sejenisnya. Samurai Jepang, merah delima, dan lain-lain. Barangnya aneh, tetapi yang lebih aneh, barangnya dimana dan pembelinya siapa (?). Barangnya ada : “Katanya”. Pembelinya ada: “Katanya”. Ada pula mimpi dianggap nyata, yang nyata dianggap mimpi. Lebih tertarik menafsirkan mimpi plat nomor ojeg ketimbang cari uang jadi tukang ojeg; dunia togel. Para pebisnis ghoib sampai pula membahas barang-barang yangberasal dari negri orang. Mereka menyebutnya batu giok asli dari Cina. Aduh! Ini lebih ghoib lagi, ni.Sebab mayoritas orang Tionghoa sekalipun tidak tahu ada dan keberadaan benda itu. Lieur urang, mah!

Inti dari semua itu bagi yang menduduki jabatan Walikota Sukabumi adalah “bersedia melakukan hijrah total”. Mampu mencintai masalah-masalah yang tidak disenangi. Mengubur hobby-hobby dan atau kebiasaan-kebiasaan yang tidak seirama dengan masyarakat kemudian menggantinya dengan yang baru. Yang lagi trend sekarang Walikota harus bisa bernyanyi. Kenapa bukan mengaji, ya? Walikotaadalah seorang Visioner. Menjalankan visi sesuai menurut asal SK ia ditugaskan yaitu Al-Qur’an. Dia juga Missioner. Meneladani kepemimpinan Nabi Besar Muhammad SAW dan sekaligus mengaplikasikan tuntunan Hadist. Barulah kemudian mengerucutkan perannya yaitu sebagai pendekar yang sanggup menghalau gangguan (disturb handle) dan sekaligus sebagai pelindung, sebagai pengayom yang berkonotasi untuk diteladani, dan sebagai dokter yang mengobati penyakit masyarakat (phatologi sosial) dan sekaligus memecahkan masalah lainnya yang ada dimasyarakat. Jadi yang justru introgatif, bukan bagaimana caranya menjadi Walikota tetapi adalah : Mampukah saya menjadi Walikota Sukabumi?

Source : radarsukabumi.com

Tentang Penulis *):

Rafdi adalah dosen Perguruan Tinggi CBI Kota Sukabumi, tinggal di Sukabumi semenjak tahun 1996. Mulai menulis kolom, artikel, dan kritik saran semenjak tahun 1990 di Koran Harian Riau Pos (group Jawa Pos), Mingguan Genta,Koran Pakuan (Group Harian Pikiran Rakyat), Bahana Mahasiswa, Politea, dan lain-lain.