Posted by admincbi On December - 30 - 2012

Oleh : Rafdi *)

Ilmu pada prinsinya sangat kaya dibanding miskinnya masalah manusia. Manusia merasa banyak masalah karena miskin ilmu. Demikian sebaliknya, orang miskin masalah disebabkan dia kaya ilmu. Jadi pertanyaan mendasar, bukan ada tidaknnya masalah, tetapi sudah cukupkah penguasan ilmu untuk mengatasi masalah?

Perspektif keilmuan di indonesia sudah sangat lama dimasuki hawa feodal. Terfokus pada strata dan gelar. Sebenarnya fakta ini bukan barang baru, tetapi mengapa sesuatu yang sudah lama kok semakin merajarela. Gelar sudah sama dengan tiket. D3 gaji sekian, jabatan pada tingkat ini, golongan anu, demikian juga terhadap strata 1 (S1) dan seterusnya. Roda sistemik pengkombinasian birokrasi dengan dunia pendidikan salah satu sumber yang bikin ulah. Unsur kompetensi yang lebih faktual karena berbasis kebisaan (ability) dan output justru diposisikan di bawah peringkat gelar dalam menentukan kapasitas potensi.

Mencampur adukkan “mengapa menuntut ilmu” dengan “ilmu untuk apa” sudah pula mendarah daging. Lebih parah lagi “Ilmu untuk apa” dimaknakan sekaligus diarahkan ke output parsial. Hebatnya lagi, output itu terkadang dibanggakan dengan cita-cita yang berharga (Golden goal). Padahal yang terjadi justru “Penghakiman” masa depan. Memiskinkan ilmu yang sifatnya untuk qodrat manusia. Bukankah ini namanya pengucilan ilmu? Uraian dibawah ini bisa memperjelas kenyataan tersebut.

Pertanyaan orang tua untuk mengkuliahkan anaknya mengarah kepada jawaban berpredikat. “Nanti kalau Asep kuliah jadi apa? Jadi bidan, guru, apa jadi dokter?” Lalu Asep pun memilih kuliah kedokteran. Hampir seluruh potensi dan perhatian Asep mengarah ke “Golden Goal” yakni menjadi dokter, selama kurang lebih enam tahun kuliah di kedokteran. Tanpa dia sadari sebagian dari dirinya menjadi robotik dengan segala rutinitas dan perangkat laboratorium. Terpasung dalam kerangka cita-cita predikat dan amanat orang tua. Energinya kini sebagian dibangun oleh opini masyarakat bahwa gelar dokter merupakan status sosial bergengsi. Potret lain terhadap Asep sesungguhnya :  dia kini menjadi orang terasing (alineasi) secara psikis karena lobang-lobang dalam dirinya agak berkurang diisi, yaitu wadah yang seharusnya berisikan dosis-dosis spiritual, sosial (hablumminannas), dan daya bangun karakter. Padahal itu semua adalah tuntutan kodrati dan bersifat mengikat (imanen).

Yang dipermasalahkan bukanlah sistim dan sistem kuliah di kedokteran, bukan pula tidak baik menjadi dokter, tetapi mengapa ilmu-ilmu empiris dosisnya terlalu tinggi sehingga suntikan ilmu-ilmu kodrati hampir terabaikan. Apakah ini disebabkan faktor pendidikan kita yang terlalu sempit memandang hakekat ilmu sehingga perguruan tinggi identik dengan pabrik yang meracik berbagai disiplin ilmu yang terkonsentrasi menghasilkan produk yang disebut gelar (status sosial).

Memang kalau Perguruan Tinggi bisa memproduk “dokter ustadz” sepertinya untuk saat ini sulit untuk terjadi. Tetapi sangat disesalkan pula bila lulusan kedokteran ingin cepat-cepat jadi PNS, praktek sebentar di RSUD, setelah itu buka praktek dimana-mana dengan tarif yang jauh berbeda dengan di RSUD.

Ada beberapa hal yang terjadi pada dokter Asep entah disadari atau tidak. Pertama, penghakiman cita-cita (harus menjadi dokter) punya konsekwensi bahwa proses yang dilaluinya harus harga mati sehingga proses lainnya ada yang tidak sempat dilalui yaitu mengadopsi ilmu-ilmu kodrati. Kedua, sistem di masyarakat yang memfeodalkan produk perguruan tinggi sehingga gelar yang bergengsi bisa menyebabkan gengsi bila tidak diselaraskan dengan keadaan ekonomi sehingga ingin cepat-cepat meraih uang banyak. Ketiga, pembiasan pemahaman “mengapa menuntut ilmu dan untuk apa menuntut ilmu” menyebabkan pengkerdilan eksistensi sebagai manusia walaupun punya gelar tinggi/status sosial tinggi di masyarakat tetapi waktu, potensi, pemikiran terkuras maksimal oleh tantangan gelar/pekerjaan profesinya. Doktrin orang tua sekaligus mewakili apresiasi masyarakat bisa sebagai penyebab yang membayang-bayangi : “kamu harus sekolah tinggi-tinggi supaya jadi orang, jangan seperti bapak yang hanya sebagai petani”. Jadi, mengapa menuntut ilmu dikarenakan daya dorong “harus sekolah tinggi-tinggi”. Ilmu untuk apa digambarkan pula melalui hasilnya, supaya jangan sampai status dan keadaan ekonomi sama dengan orang tua : “supaya jadi orang”.

Kasuistik dokter Asep merupakan gambaran general proses dan output Perguruan Tinggi di Indonesia namun hampir tidak kelihatan pada Perguruan Tinggi Agama karena di dominasi ilmu ukhrowi, rohani dibanding ilmu indrawi (empiris). Fakta seperti ini merupakan salah satu akar masalah sekularisme Perguruan Tinggi : Dikotomi Perguruan Tinggi Agama/ilmu qodrati dengan Perguruan Tinggi non Agama.

Kita memang tidak diserang gurita sekularisme secara frontal dan menyeluruh, tetapi tentakel-tentakelnya sampai pula menyentuh persepsi dan apresiasi masyarakat pada keseharian. Kalau tema Negara sekuler dianggap usang, silahkan saja! Tetapi kalau perilaku masyarakat (society attitude) dengan kecenderungan sekuler alangkah lebih berbahaya. Karena ada dan berada di fondasi dasar terhadap apa yang disebut dengan Negara sampai pada tatanan masyarakat terkecil.

Kursus bahasa Inggris, matematika, fisika, dan lain-lain tertata pada kerangka institusional. Segalanya terlembaga dan teratur. Berlaku sistim jual beli yang dianggap wajar, cost and reward. Ilmu dunia itu dikejar habis-habisan dan dibayar dengan harga mahal, katakanlah seratus ribu perbulan. Tidak ada masalah. Namun alangkah ironis bila ilmu agama justru dipermasalahkan oleh masyarakat. Bayaran anak-anak mengaji dua puluh ribu perbulan didebatkan, bahkan terkesan disepelekan pembayarannya. Lebih aneh lagi, sudah kondisi demikian,  didebatkan pula tentang pamrih guru mengaji yang “ikhlas atau tidak ikhlas” hanya gara-gara dua puluh ribu sebulan. Ilmu agama merupakan ilmu dunia akhirat tersub-ordinat, terkecilkan perlakuannya dibanding ilmu-ilmu umum, demikianpun terhadap pengajarnya bila dilihat melalui tolak ukur kompensasi.

Mulai saat ini persepsi dan aprisiasi masyarakat terhadap “mengapa menuntut ilmu dan ilmu untuk apa” harus direvisi. “Mengapa manuntut Ilmu” adalah tiada kata lain karena “wajib”. Pemaknaan wajib ini mengandung ketentuan : “kalau dilaksanakan berpahala bila ditinggalkan berdosa” sehingga punya daya dorong kuat untuk melaksanakannya. Dengan demikian, sebelum sampai ke titik output, proses yang dilalui pada saat menuntut ilmu sudah menguntungkan karena masuk dalam katagori amaliyah. “Ilmu untuk apa” berarti berbicara output yaitu “untuk menjawab segala macam permasalahan”.

Bila dalam kerangka berfikir masyarakat sudah tertanam jawaban sesungguhnya terhadap “mengapa menuntut ilmu dan ilmu untuk apa” seperti sudah disebutkan sebelumnya maka Insya Allah punya dampak positif yang sangat besar yaitu : pertama, menghindari penghakiman masa depan. Karena orang yang sudah tamat jadi guru sekalipun belum tentu bekerja jadi pengajar, apalagi kalau yang bersangkutan tidak sampai tamat, tetapi akan merasa  ada keridhoan pada saat melaksanakan proses menuntut ilmu dan apapun output yang diperoleh.

Kedua, memperluas pemahaman terhadap berbagai macam problema yang mungkin akan terjadi sehingga bertambah luas pula wawasan terhadap output menurut ilmu. Artinya bila menuntut ilmu/kuliah untuk jadi arsitek kemudian berhasil, bukan berarti masalah sudah selesai. Mungkin yang bersangkutan menghadapi masalah baru seperti masalah keluarga. Alangkah miskinnya pemahaman bila output menuntut ilmu hanya untuk menyelesaikan masalah ekonomi atau gelar semata.

Ketiga, membangun siaga untuk senantiasa menuntut ilmu qodrati untuk mengantisipasi masalah lain seperti yang dijabarkan pada poin dua di atas. Dapat pula menghindari diri dari Fanatik dan bangga terhadap penguasaan-penguasaan ilmu empirik/keduniawian.Dengan demikian  ilmu qodrati menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dipelajari.

Keempat, menghindari Frustasi tamatan dunia pendidikan yang disebabkan output yang dicita-citakan tidak terealisasi. Tertanam prinsip: “Saya sudah menuntut ilmu yang merupakan amal baik. Kalaupun saya sekarang menganggur, saya punya jawaban untuk permasalahan itu yaitu saya dulu belajar juga ilmu tawakkal.”

Source : radarsukabumi.com

Tentang Penulis *):

Rafdi adalah dosen Perguruan Tinggi CBI Kota Sukabumi, tinggal di Sukabumi semenjak tahun 1996. Mulai menulis kolom, artikel, dan kritik saran semenjak tahun 1990 di Koran Harian Riau Pos, Mingguan Genta, Pakuan (Group Harian Pikiran Rakyat), Bahana Mahasiswa, Politea, dan lain-lain.