Posted by admincbi On December - 16 - 2012

By : Ade G. Iskandar

Mahasiswa yang merupakan sekumpulan kaum kritis dalam sebuah sistem sosial masyarakat, tidak diragukan lagi peranannya dalam pembangunan bangsa sejak jaman penjajahan hingga jaman reformasi. Soliditas mahasiswa yang terhimpun dalam berbagai organisasi menjadi gerakan pembaharu berhaluan intelektual yang sulit diredam sekalipun oleh penguasa. Peran mahasiswa memang selalu dibutuhkan di setiap lini.

Kegiatan jurnalistik mahasiswa sebagai salah satu bukti kontrit eksistensi mahasiswa yang dikenal dengan pers mahasiswa. Sejarah sendiri mencatat, di Indonesia terdapat dua lembaga atau wadah persma tingkatan nasional yang mewadahi seluruh persma di Indonesia yakni Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) yang mampu bertahan selama 24 tahun (1958-1982) dan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) yang berdiri di Kota Malang pada tanggal 15 Oktober 1992 hingga sekarang. Sejak masa pemerintahan Orde Lama pers mahasiswa telah menunjukan idealismenya dengan melancarkan kritikan-kritikan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai dan dirasakan tidak berpihak kepada rakyat.

Pada masa ini Pers Mahasiswa merupakan periode terkelam dalam sejarah pers. Insan pers mengambil signifikasi peran yang sangat krusial. Dalam konteks ini, jurnalisme tetap berusaha melakukan moderasi, dan objektivitas mereka diuji di saat tampuk pemerintahan dikuasai oleh pihak-pihak yang tidak segan melakukan tindakan represif, baik itu kepada kalangan pers yang profesional maupun pers mahasiswa.

Salah satu keprihatinan mendalam dalam dunia pers pada masa orde baru, yakni ketika pemerintah melakukan pembredelan harian-harian lokal yang dikelola oleh mahasiswa. Setelah elaborasi antara gerakan mahasiswa dan militer berhasil menggulingkan Soekarno dari tampuk kepresidenan, sejalan dengan penghancuran gerakan PKI yang dianggap membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa, gerakan mahasiswa tetap terpatri di dalam konsepsinya bahwa dasar idealisme berdasarkan keadilan sejati tidak berarti koalisi dengan penguasa.

Oleh sebab itu, semenjak militer mulai mengambil alih kekuasaan, maka hal itu menandakan dimulainya rezim baru pemerintahan di bawah kendali militer yang cenderung represif. Berbagai aktivitas di kampus yang disinyalir berpotensi untuk diadakanya gerakan provokatif dicermati oleh pemerintah sebagai sebuah ancaman, Maka dari itu, BKK-NKK oleh Daud Yusuf diciptakan, untuk melemahkan bahkan mematikan gerakan mahasiswa dan pers mahasiswa. Kebijakan ini menjadikan IPMI, termasuk semua kegiatan jurnalistik mahasiswa mati, karena pers mahasiswa secara sistematis dibekukan. Tidak banyak pers kampus yang kemudian tetap bertahan.

Pelajaran berharga yang dapat diambil, sebenarnya secara substantif, perlawanan mahasiswa bukan dalam konteks untuk menguasai, dalam artian tidak untuk memperoleh pencapaian kekuasaan, tetapi semata-mata karena kita ingin agar terciptanya situasi yang lebih baik. Salah satu trek yang diupayakan oleh gerakan mahasiswa yakni melalui jalur pers. Tetapi tindakan opresif rezim yang pada waktu itu berkuasa punya kewenangan yang kuat meredam institusi pers yang memiliki kemungkinan untuk memprovokasi masyarakat lewat publikasi tulisan-tulisan, membuat dunia pers diliputi ketakutan. Pihak yang mendefinisikan diri berseberangan dengan haluan Orba diperhitungkan sebagai lawan politik. Padahal seharusnya, kebebasan pers berlaku untuk semua, tanpa adanya pembatasan untuk pengekangan.

Peranan Pers mahasiswa di Era Reformasi

Dulu, hanya jurnalis professional-lah yang dapat melakukan kegiatan jurnalistik. Kegiatan jurnalistik yang dimaksud adalah mencari, mengumpulkan, mengolah, dan melaporkan berita kepada masyarakat luas. Sekarang, dengan ditemukannya teknologi internet, kegiatan jurnalistik tidak hanya dapat dilakukan oleh jurnalis professional. Setiap orang bisa melakukan kegiatan jurnalistik dan melaporkan berita kepada masyarakat luas. Istilah yang digunakan untuk perkembangan jurnalistik tersebut disebut dengan citizen journalism.

Citizen journalism atau jurnalisme warga merupakan suatu konsep bagi anggota publik yang memainkan peran aktif dalam mengumpulkan, melaporkan, menganalisis, serta menyebarluaskan berita dan informasi (Bowman dan Willis, 2003). Maksud dari anggota publik di sini adalah setiap orang tanpa memandang latar belakang pendidikan dan keahlian. Mahasiswa masuk ke dalam kriteria tersebut. Kehadiran citizen journalism mendorong setiap orang untuk berani menulis dan melaporkan informasi/berita kepada banyak orang tanpa memerlukan label atau status jurnalis profesional.

Kegiatan jurnalistik melalui pers mahasiswa secara esensi tidak jauh berbeda dengan dunia pers profesional pada umumnya, hanya saja lebih intensif menyorot kepada dinamika kehidupan kampus, serta bagaimana mengungkap berbagai problematika lewat kacamata mahasiswa. Konten dari pers mahasiswa, selain dari hal-hal yang sifatnya informasi kritik tentang sosial-politik, ekonomi juga sampai politik, bahkan hal-hal ekspresif yang berkaitan dengan dinamika kehidupan mahasiswa, terutama gaya hidup, hiburan, dll. Adapun kemampuan yang harus dimiliki oleh insan pers yakni kemampuan menulis, analisis kritis, mengusut kasus dan juga inisiatif dalam investigasi sebuah permasalahan dengan tetap menjaga kodek etik jurnalistik.

Peranan pers mahasiswa dewasa ini idealnya harus lebih eksis lagi, dimana fasilitas media khususnya media Online sangat mudah didapatkan. Dalam hal ini tentunya diperlukan dukungan pihak rektorat dalam memberikan fasilitas media termasuk memberikan pelatihan jurnalistik kepada civitas kampus. Sehingga kegiatan jurnalistik mahasiswa akan sangat dirasakan manfaatnya baik bagi institusi perguruan tinggi maupun bagi mahasiswa, khususnya dalam rangka mengantarkan mahasiswa untuk mampu mengambil peranan penting di masyarakat baik selama menjadi mahasiswa maupun di masa mendatang setelahnya menjandang gelar sarjana.

Jurnalistik merupakan arena mendulang kreativitas, menuangkan gagasan-gagasan dan jalan menuju perubahan menuju perbaikan. Para mahasiswa merupakan sumber bakat yang tiada habisnya untuk berbagai inovasi. Sudah seharusnyalah generasi muda bangsa bangkit, melaksanakan peranannya yang semestinya dengan menyalurkan aspirasi masyarakat, menuangkan ide-ide kreatif dan melahirkan karya-karya baru melalui jurnalistik. Let’s we begin !.

 Sumber : Diolah dari berbagai sumber.