Posted by admincbi On December - 9 - 2012

Oleh : Ade Gumilar Iskandar.

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” [Q.S. ar-Ra’d 13:11]

Kita tentu tidak ingin bulan Ramadhan yang mulia ini berakhir dan lewat begitu saja, tanpa nilai positif yang ditinggalkannya pada diri kita, keluarga, serta masyarakat. Sudah saatnya bulan Ramadhan dijadikan sebagai momentum perubahan menuju kebangkitan Islam, yang diawali dengan perubahan pada diri kita selaku umat muslim.

Ramadhan dikenal dengan Syahrul Tarbiyah (Bulan Pendidikan), karena itu orang yang telah melewati masa pendidikan sejatinya menunjukan adanya perubahan atau peningkatan nilai positif pada dirinya/lingkungannya yang sebelumnya belum nampak/belum optimal.

Agar mendapatkan hasil yang optimal dari rangkaian ibadah ramadhan, dengan memaknai ramadhan sebagai momentum perubahan, tentunya kita harus benar-benar memahami peroses dari perubahan itu sendiri. Kajian dari berbagai sumber setidaknya terdapat 6 (enam) tahapan proses perubahan yang harus ditempuh secara konsisten serta berkesinambungan, yaitu sebagai berikut :

Pertama, Membangun kesadaran, yaitu kesadaran akan pentingnya melakukan perubahan melalui berbagai upaya/perjuangan. Harus diingat bahwa perubahan merupakan elemen utama siklus kehidupan manusia. Tanpa perubahan manusia tidak dapat melangsungkan suatu siklus kehidupan, karena hidup ini merupakan mata rantai aktivitas (tahapan perubahan). Tidak ada kesuksesan, kebaikan, manfaat, atau perubahan dari keadaan buruk menjadi lebih baik kecuali melalui perubahan itu sendiri. Perubahan adalah konsekuensi hidup yang harus dihadapi, kesuksesan tidaklah mungkin diperoleh secara instant, karena kebahagiaan harus di tebus dengan perjuangan, dan keberhasilan suatu perjuangan selalu melibatkan proses perubahan, waktu, dan pengorbanan. Intinya perubahan merupakan suatu keniscayaan dalam proses kehidupan.

Kedua, Menumbuh kembangkan Keyakinan. Kita harus yakin bahwa ‘Iman dan Taqwa’ yang menjadi target perubahan/perbaikan diri adalah modal utama mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Semakin tinggi derajat iman dan taqwa, maka semakin dekat pula kita kepada Allah SWT. Dengan demikian do’a kita semakin mustajab dan senantiasa mendapatkan perlindunganNya. Allah Berfirman “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”(QS. Al-Hujurat: 13). Dan jika posisi/derajat mulia “di sisi” Allah, maka Allah berikan jalan keluar dari berbagai kesulitan, Allah berikan rezeki dari arah yang tidak disangka, dan Allah mencukupkan (keperluan)nya, sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3.

Ketiga, Niat yang kuat/membulatkan tekad. Tahap ketiga ini adalah tahap membangun komitmen diri, yaitu berjuang melakukan perubahan dalam rangka meningkatkan iman dan taqwa. Ada empat hal penting sebagai wujud niat yang kuat yaitu : 1). Menjauhkan diri dari berbagai hal yang mungkin dapat merusak/mengganggu pencapaian tujuan perubahan, 2). Menetapkan target pencapaian perubahan. 3). Menyusun perencanaan. 4). Mencari dukungan (support dari keluarga, guru, kerabat, atau teman dekat). Hakikat niat bukanlah hanya sekedar diucapkan, akan tetapi niat adalah meyakinkan diri yang disertai dengan upaya mewujudkannya. Motto hidupnya adalah “Hari esok harus lebih baik dari hari ini, dan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin”.

Keempat, Memahami ilmunya. Sekalipun kita memiliki tekad yang kuat, dan perencanaan yang matang, tetapi tidak mengetahui bagaimana caranya/ilmu untuk mencapai tujuan perubahan, niscaya tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Semarak ramadhan dengan berbagai kegiatan majlis taklim, ceramah-ceramah di berbagai tempat/media dapat dijadikan momen yang tepat memperluas wawasan dan pengetahauan tentang peningkatan kualitas diri.

Dalam rangka melakukan perbaikan diri dari hari ke hari, menurut Syeikh Abdullah Nasih ‘Ulwan dalam bukunya ‘Ruhniyatut Da’iyah’ terdapat lima langkah (5 M). Yaitu : Mu’ahadah (Ikrar manusia kepada Alah); Mujahadah (bersungguh hati melaksanakan ibadah); Muraqabah (merasa selalu diawasi oleh Allah SWT); Muhasabah (introspeksi diri); dan Mu’aqabah (pemberian sanksi terhadap diri sendiri). Kajian ini InsyaAllah akan dibahas secara khusus pada kesempatan berikutnya.

Kelima, Istiqomah. Yaitu konsisten dijalan Allah dengan merealisasikan perencanaan serta meng-amalkan pengetahuan yang telah di dapatkan pada tahap sebelumnya. Mari kita sejenak mencermati apa yang dilakukan oleh sufyan bin Abdillah Ats-tsaqafy r.a. sebuah pertanyaan yang pernah beliau sampaikan kepada Rasulullah SAW. Suatu hari sahabat Rasul ini mendatangi Rasulullah SAW dan meminta mutiara nasihat kepada beliau untuk memandu jalan hidupnya. Ia berkata: ”Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku suatu kalimat yang dapat aku jadikan pegangan, sehingga aku tidak perlu bertanya kepada yang lain”. Nabi Muhammad SAW menjawab: “katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian beristiqomahlah” (HR Muslim).

Iman dan Istiqomah sebagaimana yang dituturkan Nabi SAW melalui hadits diatas, memang dua hal yang sangat patut disandingkan. Keduanya adalah bagai dua sisi mata uang dimana satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Iman adalah sebuah i’tiqod mentaati dan mencintai Allah, sementara istiqomah adalah sikap konsisten dalam menjaga kelanggengan hubungan dengan Allah dalam wujud mentaati-Nya dengan cara beramal shaleh.

Keenam, Memelihara/merawat. Yaitu sikap memelihara/menjaga nilai-nilai serta kebiasaan positif di bulan-bulan berikutnya setelah lewat ramadhan. Point-pont penting dalam mempertahankan keistiqomahan adalah : 1). Memelihara Kejujuran; 2). Al tathahhur, Selalu menjaga kesucian dari berbagai dosa; 3). Al Ijabiyah, Bersikap positif, selektif memilih lingkungan / pekerjaan, dan selalu berhati-hati mengambil langkah/keputusan.; 4). Al Mujahadah, Selalu bersungguh-sungguh dalam melakukan berbagai aktivitas yang memiliki nilai ibadah; 5). Terus mempertahankan kelebihan-kelebihan semangat moralitas ramadhan itu sendri.

Setelahnya lewat ramadhan, sebaiknya kita bisa tampil sebagai pembaharu yang mampu melakukan pembaharuan/perubahan diri dan lingkungan sekitar menuju kebangkitan Islam, bukannya malah menjadi objek perubahan/’korban perubahan jaman’.

Dengan melaksanakan 6 (enam) proses perubahan secara bertahap, menyeluruh, berkesinambungan, penuh keikhlasan, dan Istiqomah di jalan Allah. Dengan pertolongan Allah SWT kita mampu mencapai derajat yang lebih tinggi (Iman dan Taqwa) dihadapan Allah SWT dari waktu ke waktu. Amiin…

Wallahu A’lam Bishawab.

Source : http://radarsukabumi.com/?p=20459