Posted by admincbi On December - 9 - 2012

Refleksi menjelang Pilwalkot Kota Tasik, dan Pilgub Jabar

Oleh : Ade G. Iskandar

JARGON PERUBAHAN menjelang pemilihan kepala daerah (PILKADA) banyak disuarakan para kandidat. Disadari atau tidak, setiap kampanye di negara manapun selalu menghasung sebuah tema perubahan untuk mempengaruhi publik. Lalu bagaimana para kandidat merealisasikan program perubahan tersebut, setelahnya terpilih ?. Benarkan mereka berkomitmen mewujudkan sebuah perubahan yang dapat dirasakan masyarakat banyak ?.

Jawabannya adalah bukti nyata. Tidak sekadar ucapan, tetapi realisasi di lapangan ketika terpilih dan menduduki kursi kekuasaan. Yang jelas, masyarakat di negeri ini sudah terasa jenuh menikmati demokrasi yang tidak berdampak positif terhadap pembangunan. Demokrasi yang terkesan hanya hiruk-pikuk pemilihan. Tanpa memberikan kontribusi positif terhadap penyelesaian masalah-masalah kontrit yang dihadapi bangsa dan negara, khususnya dalam upaya menuntaskan kemiskinan, pengangguran, krisis moral (KKN), dan ekploitasi sumber daya alam yang dilakukan pihak asing.

Beberapa Kepala Daerah telah berhasil melakukan pembangunan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Namun jumlahnya sangat terbatas jika dibanding dengan para pilitisi yang tidak konsisten dengan konsep perubahan yang disampaikan saat kampanye. Mereka cenderung mempertahankan status quo dengan mengangkat para pejabat di lingkungannya dari sekumpulan orang-orang yang ‘loyal’, bukan di lihat dari aspek kompetensi, profesionalitas, dan pengalamannya. Mahalnya ongkos politik mungkin menjadi salah satu penyebab. Sehingga janji-janji melakukan perubahan mudah terlupakan. Akibatnya masyarakat yang menjadi korban, karena kepentingannya diabaikan oleh pengambil kebijakan.

Kini sudah saatnya bagi para politisi untuk menghayati kembali peran politiknya. Politik memang identik dengan kekuasaan, namun kekuasaan bukanlah tujuan utama. Kemiskinan, pengangguran, hak asasi manusia, dan pendidikan bukanlah komoditas politik yang dapat dijual murah lewat buaian-buaian janji di hadapan rakyat. Politisi selayaknya sudah menyadari bahwa membangun kehidupan bangsa dan negara adalah kewajiban sekaligus keharusan. Artinya, berpikir, berjuang, dan berkarya bagi pembangunan dan keberlanjutan negeri ini sudah dengan sendirinya merupakan kewajiban bagi politisi tanpa harus dikampanyekan di hadapan rakyat.

Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, dan Perubahan Sosial.

Dengan maksud bukan menggurui. Untuk menciptakan perubahan, ada baiknya para politisi mencermati makna perubahan secara komprehensif, bukan secara parsial yang tidak berdampak terhadap pembangunan sosial masyarakat yang berkelanjutan.

Untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan (sustainable development), keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya di nilai dari aspek pembangunan ekonomi semata. Tetapi juga harus meletakkan dimensi Ekonomi, Sosial-budaya, IPTEK, dan Lingkungan hidup pada level yang sama, dengan berfondasikan Nilai-nilai Spritual. Karena aspek spritual merupakan faktor fundamental, maka sebagai tahap awal adalah melalui pembangunan yang bertumpu pada manusia (Human Based Development), dengan strategi pembangunan bertumpu pada masyarakat (Community Based Development).

Guna merealisasikan program pembangunan berkelanjutan, Islam telah menawarkan konsep perubahan sebagaimana di contohkan Nabi Muhammad SAW dalam membangun perubahan sosial masyarakat. Model Perubahan ala Nabi Muhammad SAW terbagi menjadi empat bagian diantaranya: Tahapan Dasar, Mentalitas, Tahapan Pemantapan, dan Teritorial. Keempat bagian tersebut diperjuangan secara sistematis dan komprehensif, istiqomah, penuh keyakinan.

Kajian dari berbagai sumber terkait dengan konsep manajemen perubahan, faktor penting yang menentukan keberhasilan perubahan adalah membangun kesadaran, dan menumbuhkan keyakinan. Ternyata konsep Nabi Muhammad SAW dalam membangun perubahan sosial masyarakat empat belas abad yang lampau lebih maju, dan dikuasainya, hingga berhasil di implementasikan dengan sempurna.

Pada tahapan awal yang dilakukan Rasulullah adalah menyebarkan prinsip dan kaidah-kaidah ke-Islaman, pembentukan pribadi-pribadi da’i Islam, membentuk jama’ah, menjauhi bentrok, menjauhi medan perang, dan sabar dalam menghadapi cobaan/siksaan. Output dari tahapan ini adalah terbangunnya mentalitas masyarakat, dari kegelapan (jahiliyah) kepada Islam, kekufuran kepada iman, bathil kepada kebenaran, syirik kepada tauhid, nifaq kepada istiqomah, haram kepada halal, maksiat kepada taat, dan kesendirian kepada jamaah. Adakah pemimpin di negara kita yang berhasil melakukan perubahan tahap mendasar ini ?

Dalam fase Makkah setidaknya terdapat tiga pembangunan yang paling fundamental diantaranya : Pembangunan kompetensi intelektual, spiritual, dan pembangunan moral. Sedangkan dalam fase Madinah terdapat lima perubahan sebagai pengembangan dari fase Makkah yakni : Pembangunan institusi (masjid), penyusunan konstitusi, ikatan konsolidasi, pembangunan militer, dan pelembagaan hukum dan etika. Dari tahapan perubahan yang dilakukan oleh Rasulullah berhasil menciptakan sebuah model masyarakat qur’ani. Generasi yang mencintai kebaikan, kebenaran, dan keadilan sebagai jaminan hidup dengan menjadikan AlQur`an dan AsSunnah sebagai sumber kebenaran dalam rangka mengembangkan kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, dan moral.

Oleh karena itu, jadilah pemimpin yang bisa mengubah negaranya dengan mengimplementasikan manajemen perubahan konsep Islam sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Semoga Pilwalkot Kota Tasikmalaya, dan Pilgub Jabar yang akan segera digelar, dapat melahirkan pemimpin dengan kepribadian yang berkahklakul kharimah dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Dijauhkan dari mental korup, serta terbebas dari ketidak adilan, ketidak jujuran, kekufuran, dan kemunafikan. Amin…

Wallahu a’lam bishawab.